Two Words, Give Up.

Jakarta, 140818 , at a very warm afternoon

 

Dear B,

 

Ini adalah yang kedua setelah catatan yang sebelumnya pernah kubuat. Tentang pertemuan kembali kita. Dari sudut pandang kusendiri, tentu saja.

B, ini mungkin yang kesekian aku katakan dalam pikiranku sendiri, dan yang pertama yang tertulis dalam catatan ini, bahwa aku akan berhenti saja. Aku menyerah. Aku mundur untuk tidak lagi mencari segala cara untuk mendapatkan perhatianmu. Aku ingin mencoba membuka mata, bahwa kau memang bukan untukku. Aku ingin mencoba membuka hati, bahwa kau bukan yang ditakdirkan Tuhan untukku.

B, Ini terdengar egois, dan gila. Tapi itulah apa yang terjadi selama ini. Yang terjadi semenjak kita pertama kali saling mengenal. Dan itu terjadi enam tahun yang lalu. Bukankah kau berfikir ini sangat bodoh? Bagaimana bodohnya aku berusaha sendiri menumbuhkan perasaan yang selama enam tahun sudah telah kutanam? Mencoba menyiraminya setiap hari. Mencoba menghangatkannya dibawah matahari. Berharap rasa itu tumbuh besar dan tinggi seiring waktu. Berharap rasa itu berbuah manis dan sebagainya. Tapi ya, lagi dan lagi aku hanya menghabiskan waktuku untuk menunggu hal yang sejak awal memang tidak akan datang.

B, aku terlalu percaya diri bahwa kau akan balik melihatku. Suatu saat kau akan diam mendengar ocehan tak jelas dari mulutku dengan segenap hati. Akan berkali-kali mengutarakan beragam rangkaian cinta mnggelikan melalui beragam jenis mesin pengirim pesan. Ya, aku terlalu percaya diri. Dan itu membuatku merasa aku begitu menyakiti diriku sendiri.

B, kadang aku berfikir. Aku begitu sering memikirkanmu dalam pikiran-pikiran liarku. Menyebutmu dalam segenap hatiku. Apakah ketika aku melakukan itu, secara ajaib kau juga memikirkanku? Terlintas namaku dibenakmu? Atau, pernah kau berfikir sedikit saja tentangku? Tentang perasaanku tepatnya? Kenyataanya, pertanyaan-pertanyaan ini adalah beberapa dari sekian yang tak akan pernah terjawab.

B, kita berteman. Ada beberapa teman yang lain. Kau menyukai salah satunya bukan? Yang kulihat, kau selalu berikan perhatianmu padanya bukan? Dialah yang kau inginkah?

 

B, aku mencintaimu.

B, tapi sekarang aku akan mulai berhenti mencintaimu. aku akan sedikit berubah, terhadapmu. Dimulai ketika nanti kita kembali bertemu.

B, terimakasih karena telah menyembunyikan ketidaknyamananmu dihadapanku. terimakasih tidak menjauhiku ketika aku bertingkah aneh dihadapanmu. terimakasih untuk segala hal kecil yang sangat berharga bagiku. terimakasih, B, sahabatku, yang bahkan aku ragu iyakah kau bahkan menganggapku sebagai seorang sahabat? aku, menyerah.

Advertisements

6 thoughts on “Two Words, Give Up.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s