Happen Ending

image

 

Suara gaduh adalah hal pertama yang kudengar ketika aku sampai diambang pintu rumah. Aku menghela nafas. Sangat mengetahui apa yang sedang terjadi didalam dan siapa dalang atas kegaduhan yang tengah berlangsung. Tanpa menunggu lagi aku memutar knop, membuka pintu dan mengucap salam hingga sesaat kemudian…

PRAK

Sebuah remot tv baru saja melayang dan menabrak dinding pintu tepat disamping kiri tubuhku berdiri. Benda itu pasti mengenaiku jika saja aku berjalan lebih cepat masuk kedalam ruangan. Meski begitu, rasa terkejut tetap tak bisa kuhindari. Ibu dan bocah itu -si dalang kegaduhan malam itu- juga tengah menghadap kearahku dengan ekspresinya masing-masing. Reaksi keterkejutan ibu tak jauh beda denganku. Sedangkan bocah itu terlihat tak peduli. Ia malah menatapku sengit. Marah. Ia terlihat seperti kesal kenapa remot tv itu tak mengenaiku. Hal itu terbukti dengan aksi brutal yang selanjutnya ia sengaja pertontonkan. Ia mengambil pensil warna yang berhambur dimeja dan menyoret-nyoret tembok dibelakangnya. Coretan yang panjang dengan pensil berwarna ungu. Ibu terlonjak dari tempatnya dan setengah berlari menghampiri Aiden-nama bocah itu.

“Astaga! Apa lagi yang kau lakukan!” Ibu mencoba menghentikannya. Sedikit bergulat tangan saat berusaha mengambil pensil berwarna itu dari tangan mungilnya yang menggenggam erat.

“Hentikan! Aku bilang hentikan bocah nakal!” Ibu masih mencari cara menghentikan tangan yang lincah menghindar itu. Masih sambil sesekali mencoret-coret saat tangannya berhasil meloloskan diri dari tangan sang nenek. Aku mendekat dan mengambil pensil berwarna lainnya. Mendekat pada tembok tempat ia dan ibu tengah bergulat dan mulai ikut mencoret-coret disana.

“Kau mau tahu bagaimana wajah nenek saat ini?” Suaraku cukup jelas terdengar dan mungkin juga terdengar begitu amat menarik hingga membuat duo nenek-cucu itu menghentikan pergulatan mereka. Hening. Aku mulai menggambar sebuah karikatur tanpa menoleh lagi kearah keduanya. Dari aura yang kurasakan disekitarku, bisa kutebak bahwa keduanya tengah menatapku kembali dengan ekspresinya masing-masing, lagi. Kali ini kurasa Ibu melotot tak percaya kearahku. Karena selanjutnya yang kudengar adalah teriakan membahananya meski tak mencoba menerjang menghentikan kegiatanku mengotori dinding bercat peach yang bersih mulus itu.

“YAAKKKKK, AP-AP-APA YANG KAU LAKUKAN???!!!”

Aku hanya tersenyum. Menyelesaikan gambar yang sudah terlanjur kubuat. Toh tembok ini sudah dicoret-coret olehnya. Ditambah sedikit coretan maha karya dariku tak masalah kan? Aku hanya mencoba merubah mood bocah ini. Dan. Selesai. Aku tertawa melihat gambarku sendiri. Aku memang tak pandai menggambar, tapi saat ini aku bangga dengan itu karena sepertinya aku menggambar ekspresi wajah ibu dengan sangat pas.

“Aiden! lihat! kau lihat? seperti inilah wajah nenek saat marah! begitu jelek!” Aku menarik Aiden yang terdiam disamping ibu untuk melihat gambarku. Aku tak hentinya tertawa. Ibu hanya berdecak-decak putus asa melihat kelakuan anak dan cucunya.

“Ya Tuhaaan~ apa salah dan dosaku” Ujar Ibu yang sekaligus berperan sebagai nenek yang malang itu. Ia kemudian hanya terduduk pasrah. Tak lama setelahnya ia merangkak tak berdaya berusaha mengambil remot tv yang terbelah karena ‘tabrakan’ tadi. Aku masih tertawa sampai didetik kemudian kudapati Aiden yang dalam diamnya masih menatapku dengan tatapan yang tak berprikemanusiaan dan berprikeadilan. Tatapan itu begitu mencemoohku. Begitu merendahkanku dan begitu meragukan kewarasanku. Tawaku hilang ditelan kesunyian malam. Tatapan bocah ini begitu mematikan.

“Tidakkah kau pikir ini lucu?” Tanyaku, mencoba mengajaknya bicara. Namun tak ada jawaban darinya. Ia malah mengabaikanku dan beranjak menuju tangga, menuju kamarnya dilantai dua. Dengan ekspresi dingin yang sama.

“Kau sudah makan Aiden?” Tanyaku berusaha mencuri perhatiannya. Tak ada jawaban.

“baiklah kuanggap kau sudah makan. dan oh, Apa Kau sudah mau tidur?” Masih tak ada jawaban.

“Okay, cuci muka, tangan, dan kakimu sebelum tidur, mengerti?” Tanyaku kembali dengan suara yang lebih keras agar ia dapat mendengar. Dan…

BRAK

Suara dentuman pintu yang tertutup dengan keras adalah jawaban yang kudapat.

“Kuanggap itu sebagai jawaban bahwa kau mengerti” Ocehku kemudian. Ocehan yang hanya dapat ibu dengar karena ia ada disampingku saat ini. Tengah merapihkan kembali berbagai alat tulis yang bertebaran dikarpet diatas lantai.

“Aku tidak tahu lagi bagaimana mengurus anak itu. Dia benar-benar nakal”

“Memangnya karena apalagi kali ini?”

“Entahlah. Sejak pulang sekolah bocah itu seperti kerasukan”

“Kau sudah menghubungi mereka hari ini?”

“Masih sama tak ada jawaban”

“Tsk, Apa sih yang mereka lakukan? Aku benar-benar akan memukuli keduanya jika bertemu”

“Sudahlah, Elliana. Bersihkan dirimu dan makan sana! Anak itu hanya sangat manja dan nakal! Biar ini ibu yang bereskan”

Aku mengangguk dengan ekspresi kecewa. Kemudian memungut benda terakhir yang tergeletak didekatku dan memberikan itu kepada ibu untuk dibenahi. Aku menaiki tangga. masih dengan tanda tanya. Ibu selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku berusaha mengungkit tentang hal itu. Tentang ayah dan ibu Aiden. Ya, Orang tua bocah itu.

Sudah empat bulan ini ia tinggal bersama kami. Aku tak melihat kakakku datang untuk menitipkan anak ini pada kami. Yang kutahu malam itu saat aku baru saja pulang dari tempat kerja, anak itu sudah berada dirumah ini. Tertidur meringkuk diatas sofa diruang tamu. Wajahnya sembab dan jejak airmata masih terlihat dipipinya. Aku bertanya pada ibu namun jawabannya hanya bahwa kedua orang tuanya -kakak kandungku dan suaminya- tengah sibuk mengurus sebuah proyek besar. Keesokannya saat aku mencoba bertanya pada bocah itu, dia memang sangat mneyebalkan. Tak menjawab, ia lebih banyak diam. Hanya menjawab dan bertanya seperlunya. Ini sudah empat bulan dan ia masih seperti itu. Seperti menganggap kami hanya sebatas pengasuhnya dan tak lebih dari orang lain. Apakah memang anak usia enam tahun belum mengerti arti sebuah ikatan nenek dengan cucu atau tante dengan keponakan?

***

“Hai, jagoan! Kau mau selai coklat atau stroberi?”

“Keju”

“Huh? Keju? Ibu? kau punya persediaan keju?”

“Tidak ada keju. Memangnya sejak kapan kau suka keju, Aiden? Beri dia stroberi dan letakkan saja diatas piringnya. Kau tahu benar Dia sangattt menyukai stroberi”

“Jadi, stroberi?” tanyaku memastikan agar tidak terjadi kesalahan hingga membuat ia mengacak-acak dapur dipagi hari yang cerah ini.

“Aku mau nasi goreng saja”

“Hei, ini jam! Ugh, OK! OK! Ibu! Putra Mahkota ingin sarapan nasi goreng!” Aku mencoba menolak permintaanya namun ia sudah menatapku dengan tatapan mata yang didalam retinanya berkobar rencana nakal yang berapi-api.

Well, anak ini benar-benar menyebalkan!

***

“Tunggu, topimu” Kataku menghentikan langkahnya yang hendak memasuki gerbang sekolah. Ya, disinilah aku saat ini. Ia memaksaku mengantarnya kesekolah hari ini. Aku tak bisa menolak dan hanya menuruti apa maunya.

“Kau yakin tak mau diantar sampai kelas?”

“Aku hafal jalan menuju kelas” katanya kemudian beranjak tanpa berpamit padaku atau sekedar berterimakasih karena sudah rela terlambat kerja untuk mengantarnya. Sabar, Elliana. Ia hanya anak berusia enam tahun yang belum mengerti tata cara berterimakasih. Bersabarlah dengan tingkah polanya. Gumamku. Kemudian aku mencoba memberinya semangat dengan sedikit berteriak…

“Baiklah, selamat belajar. Jangan nakal, mengerti?”

Berteriak menyemangatinya meski ia seperti berpura-pura tak mendengar. Aku menghela nafas. Menatap dalam diam pada bocah kecil yang tengah berjalan menuju kelasnya itu. Ia masih begitu kecil namun kenapa bisa begitu dingin? Aku benar-benar kesulitan untuk mengerti apa yang diinginkannya. Apa yang ingin ia sampaikan melalui tingkah nakalnya? Entahlah. Ia pun mungkin tak mengerti. Tapi, Aku dan Ibu hanya ingin menunjukkan bahwa apapun yang ia lakukan. Kenakalan apapun yang ia perbuat. kami akan tetap dan selalu ada untuk melindungi dan menuruti maunya.

Eh?

oh

Aku terhenyak dari lamunanku ketika menyadari seorang anak kecil yang sedari tadi aku perhatikan tampak belakang punggung kecil yang menggendong tas yang bahkan sedikit lebih besar dari tubuhnya kini tengah menghentikan langkahnya. Yang baru kusadari bahwa kini ia berbalik menatap kearahku. berdiri dalam diam ditempatnya. Aku heran dengan apa yang tengah ia lakukan. Hingga didetik berikutnya setelah aku bertanya ‘apa?’ dalam isyarat. Aku terkejut dibuatnya. Ia tersenyum sumringah padaku, senyum yang kurasa tak pernah ia perlihatkan. Ia lalu melambaikan tangan.

“Terimakasih, aunty!” Teriaknya meski aku sayup mendengar ucapannya itu. kemudian kulihat ia berlari dari tempatnya. Melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju kelas. Aku masih mencerna sikapnya yang barusan itu. Aku tidak percaya dia memanggilku aunty bukan sekedar sebutan ‘kau’. Dan ia tersenyum padaku dan melambaikan tangan. Ia tak pernah memperlakukanku dengan sikap yang berlandaskan keprimanusiaan seperti itu. Itu adalah hal yang mungkin sangat sederhana. Tapi senyum sumringahnya itu cukup menjelaskan bahwa setidaknya ia cukup menunjukkan bahwa ia cukup tahu bagaimana cara untuk berterimakasih. Itu sudah cukup menunjukkan bahwa ia bisa menghargai apa yang orang lain sudah lakukan untuknya.

Well, Pagi ini memang sangat cerah.

***

“Halo, ibu? Ah tidak. aku hanya ingin memastikan, sedang apa anak nakal itu saat ini?”

Siang itu aku masih berada dikantor. Masih bergulat dengan pekerjaanku. Tapi entah kenapa aku malah mengingat bocah tengik itu. Tapi jawaban yang kudapat dari ibu malah membuatku panik.

“Ah, itu. Sebenarnya, Ibu…”

***

Disini aku sekarang. Di area sekolah yang pagi ini juga kujejaki. Setelah datang kerja terlambat aku akhirnya memalukan diri dengan memohon -mohon untuk pulang lebih awal untuk mengurus bocah yang entah sudah seperti apa wajahnya saat ini.

Aku memarkir mobilku tepat didepan gerbang sekolah. Tak peduli mobil itu akan didenda atau tidak karena memarkir mobil sembarangan. Aku turun dari mobil kemudian berlari menuju kedalam sekolah dengan tergesa. Berharap Aiden masih didalam area sekolah bukannya nekat pulang sendiri kerumah meski itu tak mungkin karena jarak jauh yang harus ditempuh. Atau berharap Aiden tak diculik berhubung ini telah lebih dari lima jam sejak jam kepulangannya.

Dan aku dapat bernafas lega ketika melihat Aiden masih terduduk menunggu di sebuah lorong sekolah tempat biasanya para murid menunggu jemputan.

Aku mendekat padanya. Dapat kulihat wajahnya yang mengeras marah meski kedua matanya jelas terlihat berkaca-kaca. Aku tahu dia sedang menahan untuk tidak menangis.

“Maaf, nenek-”

Aku mencoba menjelaskan namun Ia langsung beranjak dari duduknya dan melewatiku begitu saja. Berjalan cepat didepanku.

“Aiden, dengarkan aunty, tadi-”

GREP

Aku terpaku ketika lagi-lagi tak menduga apa yang anak kecil ini lakukan. Ia tiba-tiba berbalik dan langsung memelukku. melingkarkan dengan erat tangan kecilnya dipinggangku. Dan yang membuatku lebih terkejut adalah kenyataan bahwa ia menangis, bisa kurasakan airmatanya mengalir deras meski tak ada isak tangis yang meraung khas anak kecil keluar dari mulutnya. Tubuhnya bergetar. hingga kemudian sebuah suara keluar disela isak tangisnya. Sebuah pernyataan yang begitu mengena.

“Aku takut” isaknya.

“Aku takut, aunty” lanjutnya kembali. berusaha mengontrol antara isak tangis dan kata-kata yang ingin ia sampaikan.

“Aku takut. Aku pikir kalian tidak akan menjemputku lagi. Aku pikir kalian akan meninggalkanku diluar sini sendiri. Aku takut tidak bertemu nenek dan aunty lagi. aku takut. maafkan aku aunty, aku tidak akan nakal lagi, aku berjanji. Jangan tinggalkan aku disini!”

Aku terenyuh. Kemudian berlutut menyamakan posisinya untuk balik memeluknya dengan erat, berharap bisa mengurangi rasa takutnya. Mengelus-elus punggungnya diatas seragam yang kini basah oleh keringat. Aku terus mencoba menenangkannya karena ia terus terisak. Meski aku sendiri kesulitan menahan air mata mendengar ketakutannya itu.

“Bodoh! kau berfikir yang tidak-tidak! mana mungkin kami meninggalkanmu disini!”

Dan, isak tangisnya tak berhenti sampai disana. ia terus terisak sampai bahkan jatuh tertidur saat perjalanan kesebuah rumah sakit. Ya rumah sakit. Tempat kedua orang tua Aiden, juga ibuku berada saat ini. Keduanya tiba siang tadi dan terlalu sibuk mengurus beberapa dokumen yang dibutuhkan rumah sakit itu. Sampai bahkan lupa untuk menghubungiku. Ayah Aiden -Denis- saat ini tengah dirawat karena sebuah kecelakaan kerja yang dialaminya saat menjalankan proyek pembangunan sebuah yayasan.

Proyek mereka berlokasi disebuah daerah terpencil yang rumah sakitnya kurang memadai, hingga Sandara -kakak kandungku yang juga istrinya memutuskan untuk pulang dan merawatnya dirumah sakit yang lebih besar dimana semua peralatan medis memadai. Dan Sandara mengatakan bahwa beberapa tasnya yang berisi barang-barang berharga hilang dicuri sehari begitu mereka tiba disana. Hingga tak bisa mengabari apapun dan mereka lagi-terlalu sibuk mengurus banyak hal bahkan untuk sekedar meluangkan waktu menulis surat.

Proyek yang seharusnya berjalan dalam waktu tiga bulan tertunda karena masalah perizinan. Sehingga proyek tersebut memerlukan waktu yang lebih lama. Ibu telah mengetahui tentang proyek ini tapi ia lupa bahwa menantu dan anaknya menitipkan sang anak lelaki untuk waktu tiga bulan. Ibu pikir mereka hanya akan pergi dalam waktu seminggu atau dua minggu. Tsk, Ibu. Dia telah membuatku berfikir yang tidak-tidak. Dan Bocah tengik Aiden itu, ia akhirnya mengatakan padaku bahwa ia tahu bahwa tidak akan bertemu dengan ayah dan ibunya dalam waktu tiga bulan. Tapi ia tidak mengerti berapa lama tiga bulan itu. Ia berfikir tiga bulan itu sama dengan tiga hari. dan setiap hari ia selalu menghitung bahwa hari itu adalah hari yang pertama hingga ia tidak tahu kapan hari ketiganya akan datang. Karena itu ia merasa kesal dan melampiaskannya dengan berbuat seenaknya.

Dia juga bercerita bagaimana senangnya ia pagi ini karena aku bersedia mengantarnya kesekolah. Biasanya ibulah yang mengantar Aiden. Ia kesal bahwa ibu tak pernah mengantarnya sampai di kelas. Turun dari mobil saja tidak. Dan yang membuatnya bahagia adalah ketika ia memutuskan berbalik badan untuk memastikan keberadaanku masih ada atau tidak sebelum ia benar-benar memasuki lorong sekolah. Ia senang aku masih berada disana saat itu hingga  Ia tak bisa menahan senyumnya.

Well, itu sangat lucu. Sekarang aku bisa melihat Aiden adalah seorang bocah yang benar-benar manja dan polos dan manis dan cengeng. Ia begitu menggemaskan. Dan yang paling terpenting, Tak ada hal buruk yang terjadi, semua baik-baik saja. Keluarga kecil itu baik-baik saja. Dan hidupku kembali baik-baik saja. Tak ada kegaduhan yang mengganggu, hanya saja kejahilan bocah tengik itu kini merajalela.

Fiuh, bersabarlah Elliana, ini adalah hari terakhirmu menjadi pengasuh dan setelah ini berakhir kau bebas. Kau akan kembali menjadi manusia seutuhnya. Kau akan-

Ting Tong

huh?

siapa yang datang sepagi ini?

Aku baru saja akan bangun dari tidurku saat tiba-tiba

BRUGH

Ugh

sesuatu menerjangku dengan tidak berprikemanuasiaan. Alien yang tiba-tiba mendarat diatas kasurku itu kemudian berlompat-lompat senang. Kurcaci yang kelewat hyperactive ini jelas bukan Aiden. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas siapa pengacau ini.

huh?

Henry?

“Aunty! Bangun! Dimana Aiden? Dia masih menginap disini kan? YAY, aku juga akan menginap disini untuk beberapa hari! Kami akan bermain bersama! YAY!!”

JEEEGGEERRR

Itu adalah bagaimana suara hatiku menolak keras. Tapi si Henry ini jelas tidak mendengar suara hatiku yang menggelegar itu. Ia masih melompat-lompat diatas kasurku dengan rasa tidak bersalah khas bocah. Padalah aku tengah tergeletak tak berdaya diatas kasurku sendiri. Membayangkan tidak akan ada masa- masa tenang selama aku ada didalam rumah. Rest not in peace, Elliana.

 

_END_

 

A short story by amlocked

the plot is mine but not the casts with their western names

credit pic: baeksumin source google

thank you for reading ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s